Wednesday, 29 August 2018

Me and Husband (After 8 year Marriage)

30 Agustus 2018.

Hari ini kami berangkat kerja bersama. Diawali pagi drama si Kaka dan Keceriaan Dede yang gak betah dirumah (main). Momotoran sama suami itu rutinitas kami setiap pagi, setelah mengantarnya hingga kantor saya melanjutkan perjalanan dari penumpang menjadi pengemudi hingga kantor saya.

Diperjalanan kami membicarakan tentang banyak hal. (Hal yang jarang kami lakukan beberapa tahun ke belakang.) 😄😄😄😄 Tentang keluarganya, saudara-saudaranya, juga keluarga saya.

Well, saya rasa hubungan kami semakin kuat kali ini, semoga akan terus saling menguatkan. Mungkin karena banyak hal yang sudah kita alami bersama.

"WHAT DOESN'T KILL YOU MAKE YOU STRONGER''


Apa yang tidak memisahkan kami, membuat kami bertambah kuat. Hubungan ini. Meski mungkin tidak dipungkiri akan ada ujian lain yang akan kami hadapi. Tapi dengan bersama, finally I know... he was the best partners that GOD sent to me.
Tuhan tidak pernah salah, kamilah yang salah.
Salah berpikir bahwa pernikahan adalah harus yang menguntungkan kita saja.
Salah mengira bahwa istri adalah ratu in the real life.
Salah menganggap pernikahan itu akan mudah berpisah.

Yes, Pernikahan itu bukan tentang "jika kita tidak cocok kita tidak bisa bersama"
Kenyataannya, pernikahan itu adalah "membiasakan" kita pada kehidupan yang sangat menyenangkan hingga sangat menyakitkan.
Ujian sebenarnya adalah ya PERNIKAHAN itu.
Menikahi seseorang, memasuki dunianya, menyesuaikan dengan kehidupannya, lingkungannya itu adalah Tantangan tersendiri. Seberapa kuat kehidupan menempa kita, dalam PERNIKAHAN kita diuji untuk bertahan.

Terkadang dalam PERNIKAHAN kita hanya harus PASRAH (lain dengan menyerah). Memasrahkan masa depan kami kepada Tuhan, akan dibawa kemana bahtera ini dilautan. Kita hanya berserah dan berpasrah, berharap kita dibawa ketempat yang lebih baik, keadaan yang lebih baik.
dan ternyata, pola pikir kitalah yang menentukan apakah kita akan bersyukur pada keadaan baik yang sudah diberikan. ataukah akan tetap meratapi dan mengutuk kehidupan yang sudah kita pasrahkan tadi.

and I'll Choose "I DO" saya bisa menghadapinya, saya hanya harus meminta pada Pasangan.
"TEMANI AKU" kata pamungkas yang tidak akan terbantahkan.

The end